Kontinuitas ibadah lebih penting, dibanding dengan banyaknya ibadah yang dilaksanakan.

Kontinuitas ibadah lebih penting, dibanding dengan banyaknya ibadah yang dilaksanakan.

Dalam Hadits Nabi Muhammad SAW disebutkan, sebaik-baik amal adalah yang dilakukan secara kontinyu (berkelanjutan), meskipun jumlahnya tergolong sedikit.Yang dianjurkan dalam agama, bukanlah banyak jenis ibadah yang dilakukan. Satu ibadah yang dilakukan secara berkelanjutan akan lebih berarti, dibanding banyak ibadah tapi tidak dilaksanakan secara berkesinambungan.
Dalam Hadits dikisahkan, ada seorang sahabat yang dikisahkan Rasulullah SAW akan masuk surga. Sahabat itu adalah seorang imam masjid di Madinah, yang setiap sholat Dzuhur selalu membaca surat Al-Ikhlas. Suatu ketika para jamaah pernah protes kepada Rasulullah SAW, dan meminta agar imam tersebut tersebut diganti.
Rasulullah bertanya kepada imam masjid, “Hai imam benarkah itu ?” Lantas, imam tersebut menjawab, “Jika tidak membaca surat Al-Ikhlas, rasanya hambar sholatku ya Rasulullah.” Rasulullah berkata, “Bila begitu sebabnya, itulah yang membuatmu akan masuk surga.”
Kisah ini mengisyaratkan, kontinuitas ibadah yang dilakukan seseorang akan menyebabkan ia masuk surga.
Pada bulan Ramadhan banyak umat islam yang ramai-ramai menuju masjid, namun selepas bulan tersebut masjid kembali sepi dari keramaian jamaah. Padahal dalam ajaran agama, sholat tidak mengenal waktu, apakah bulan puasa atau bukan. Sebagaimana disebutkan Allah SWT, “Beribadahlah kepadaku-Ku hingga waktu menjemputmu.”
Demikian juga dalam berdakwah. Jika pada bulan Ramadhan ulama ramai-ramai melakukan safari dakwah, tapi setelah itu kembali surut. Padahal, sebenarnya dakwah itu harus dilakukan setiap hari, apakah siang atau malam, dakwah itu haru tetap dilakukan. Jadi, kontinuitas ibadah yang dilakukan lebih penting, daripada banyaknya ibadah yang dilaksanakan.

Sebenarnya nilai plus suatu ibadah itu bukan terletak pada kewajiban, akan tetapi pada ibadah sunnah. Jika itu bisa kita laksanakan, ibadah sunnah itu seperti ibadah wajib, tentu akan memperoleh keutamaan tersendiri. Mampukah kita melaksanakan hal tersebut, inilah sebenarnya tantangan berat yang harus dijawab.
Secara bertahap, setiap muslim harus memiliki target untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Misalnya, pada tahun ini melaksanakan sholat Dhuha setiap pagi. Setelah itu terlaksana baik, tahun berikutnya ditambah dengan sholat Ba’diah Qobliyah, dan seterusnya.
Dalam menyampaikan dakwah, juga harus dilakukan secara bertahap. Tidak mungkin begitu melakukan dakwah, seketika itu juga ada perubahan. Itu sebabnya Nabi Muhammad SAW ketika berdakwah di Mekkah, selalu bertema tentang Tuhan dan hukum Islam. Kenyataannya, 13 tahun bisa dekat dengan Allah SWT. Dengan tahu siapa Allah SWT dan bagaimana komitmen-Nya, maka kita sebagai hamba bisa mengamalkannya.
Jika manusia suda bisa mendekatkan diri dengan sempurna, maka Allah SWT akan mengangkat potensi maupun potensi jahat dari diri mereka. Potensi baik akan terus mencuat, manakala orang tersebut berteman dengan orang yang baik, sementara potensi jahat akan berkembang tatkala orang itu berteman dengan orang jahat.
Bila berteman ustadz, Insya Allah ia akan baik. Sebaliknya bila seseorang berteman dengan seorang bandit, maka ia akan menjadi penjahat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: