Geografi

Tulungagung

Motto: Bersinar (Bersih, Indah, dan Menarik)

Provinsi Jawa TimurIbu kota TulungagungLuas 1.055,65 km²

Jumlah Penduduk 970.429 (2005)Kepadatan 1.522 jiwa/km²

Pembagian administratif

Kecamatan 19Desa/kelurahan 271

Kode area telepon 0355

Etimologi

Awalnya, Tulungagung hanya merupakan daerah kecil yang terletak di sekitar tempat yang saat ini merupakan pusat kota (alun-alun). Tempat tersebut dinamakan Tulungagung karena merupakan sumber air yang besar – dalam bahasa Kawi, tulung berarti mata air, dan agung berarti besar -. Daerah yang lebih luas disebut Ngrowo. Nama Ngrowo masih dipakai sampai sekitar awal abad XX, ketika terjadi perpindahan pusat ibu kota dari Kalangbret ke Tulungagung.

 

Sejarah

Pada tahun 1205 M, masyarakat Thani Lawadan di selatan Tulungagung, mendapatkan penghargaan dari Raja Daha terakhir, Kertajaya, atas kesetiaan mereka kepada Raja Kertajaya ketika terjadi serangan musuh dari timur Daha. Penghargaan tersebut tercatat dalam Prasasti Lawadan dengan candra sengkala “Sukra Suklapaksa Mangga Siramasa” yang menunjuk tanggal 18 November 1205 M. Tanggal keluarnya prasasti tersebut akhirnya dijadikan sebagai hari jadi Kabupaten Tulungagung sejak tahun 2003.

Di Desa Boyolangu, Kecamatan Boyolangu, terdapat Candi Gayatri. Candi ini adalah tempat untuk mencandikan Gayatri (Sri Rajapatni), istri keempat Raja Majapahit yang pertama, Raden Wijaya (Kertarajasa Jayawardhana), dan merupakan ibu dari Ratu Majapahit ketiga, Sri Gitarja (Tribhuwanatunggadewi), sekaligus nenek dari Hayam Wuruk (Rajasanegara), raja yang memerintah Kerajaan Majapahit di masa keemasannya. Nama Boyolangu itu sendiri tercantum dalam Kitab Nagarakertagama yang menyebutkan nama Bayalangu/Bhayalango (bhaya = bahaya, alang = penghalang) sebagai tempat untuk menyucikan beliau. Berikut ini adalah kutipan Kitab Negarakertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca dan telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia:

Prajnyaparamitapuri itulah nama candi makam yang dibangun
Arca Sri Padukapatni diberkati oleh Sang Pendeta Jnyanawidi
Telah lanjut usia, paham akan tantra, menghimpun ilmu agama
Laksana titisan Empu Barada, menggembirakan hati Baginda
(Pupuh LXIX, Bait 1)

Di Bayalangu akan dibangun pula candi makam Sri Rajapatni
Pendeta Jnyanawidi lagi yang ditugaskan memberkati tanahnya
Rencananya telah disetujui oleh sang menteri demung Boja
Wisesapura namanya, jika candi sudah sempurna dibangun
(Pupuh LXIX, Bait 2)

Makam rani: Kamal Padak, Segala, Simping
Sri Ranggapura serta candi Budi Kuncir
Bangunan baru Prajnyaparamitapuri
Di Bayalangu yang baru saja dibangun
(Pupuh LXXIV, Bait 1)

 

Dahulu kala Tulungagung terkenal dengan daerah rawa-rawa, yang lebih dikenal dengan nama Bonorowo/ngrowo (rowo=rawa). Bekas rawa-rawa tersebut kini menjadi wilayah kecamatan Campurdarat, Boyolangu, Pakel, Besuki, Bandung, Gondang. Dalam prasasti Lawadan,terletak di sekitar Desa Wates Kecamatan Campurdarat, yang dikeluarkan pada Jum’at Pahing 18 Nopember 1205 disebutkan bahwa Raja Daha yang terakhir yaitu Sri Kretajaya merasa berkenan atas kesetiaan warga Thani Lawadan terhadap raja ketika terjadi serangan musuh dari sebelah timur Daha. Tanggal tersebut kemudian digunakan sebagai hari jadi tulungagung. Pada Prasasti Lawadan dijelaskan juga tentang anugrah Raja Kertajaya berupa pembebasan dari berbagai pungutan pajak dan penerimaan berbagai hak istimewa kepada DWAN RI LAWADAN TKEN WISAYA, atau dikenal dalam cerita sebagai DANDANG GENDHIS. Di jaman majapahit, Bonorowo dipimpin oleh seorang Adipati yang bernama adipati kalang. Adipati kalang tidak mau tunduk pada kekuasaan majapahit, yang berujung pada invasi mojopahit ke bonorowo. Adipati kalang dan pengikutnya yang berjuang dengan gagah berani akhirnya tewas dalam pertempuran didaerah yang sekarang disebut kalangbret dikecamatan Kauman.

Di Jaman penjajahan jepang, tulungagung dijadikan base pertahanan jepang untuk menangkal serangan sekutu dari australia serta sebagai benteng pertahanan terakhir untuk menghadapi serangan dari arah utara. Pada masa itu ratusan ribu romusa dikerahkan untuk mengeringkan rawa-rawa tulungagung membuangnya ke pantai selatan dengan membuat terowongan air menembus dasar gunung Tanggul, salah satu gunung dari rangkaian pegunungan yang melindungi Tulungagung dari dasyatnya ombak pantai selatan, yang terkenal dengan sebutan terowongan ni yama. Terowongan tersebut sekarang dijadikan PLTA Tulungagung.

Geografi

Kabupaten Tulungagung terletak 154 km barat daya Kota Surabaya, ibu kota Provinsi Jawa Timur. Batas-batas wilayah Kabupaten Tulungagung secara administratif adalah sebagai berikut:

· Sebelah utara : Kabupaten Kediri

· Sebelah Selatan : Samudera Hindia

· Sebelah Timur : Kabupaten Blitar

· Sebelah Barat : Kabupaten Trenggalek

Secara topografik, Tulungagung terletak pada ketinggian 85 m di atas permukaan laut (dpl). Bagian barat laut Kabupaten Tulungagung merupakan daerah pegunungan yang merupakan bagian dari pegunungan Wilis-Liman. Bagian tengah adalah dataran rendah, sedangkan bagian selatan adalah pegunungan yang merupakan rangkaian dari Pegunungan Kidul. Di sebelah barat laut Tulungagung, tepatnya di Kecamatan Sendang, terdapat Gunung Wilis sebagai titik tertinggi di Kabupaten Tulungagung yang memiliki ketinggian 2552 m. Di tengah Kota Tulungagung, terdapat Kali Ngrowo yang merupakan anak Kali Brantas dan seolah membagi Kota Tulungagung menjadi dua bagian: utara dan selatan.

 

Pemerintahan

Kabupaten Tulungagung beribukota di Kecamatan Tulungagung, yang terletak tepat di tengah Tulungagung. Kabupaten Tulungagung terbagi dalam 19 kecamatan, 257 desa, dan 14 kelurahan. 19 kecamatan tersebut adalah:

1. Bandung

2. Besuki

3. Boyolangu

4. Campurdarat

5. Gondang

6. Kalidawir

7. Karangrejo

8. Kauman

9. Kedungwaru

10. Ngantru

11. Ngunut

12. Pagerwojo

13. Pakel

14. Pucanglaban

15. Rejotangan

16. Sendang

17. Sumbergempol

18. Tanggunggunung

19. Tulungagung.

Saat ini Tulungagung berada di bawah tapuk kepemimpinan Heru Tjahjono dan wakilnya Mohammad Athiyah sejak tahun 2003.

 

 

KECAMATAN CAMPURDARAT

Gambaran secara geografis kecamatan Campurdarat luas wilayahnya 44.494 Km² yang terdiri : Sawah teknis : 396,6 ha, Sawah setengah teknis : 217,6 ha., Sawah tadah hujan : 557,4 ha. ,Tanah tegal / ladang : 928,3 ha., Tanah pemukiman / pekarangan : 1.163,2 ha., Kolam : 1,4 ha., Hutan Negara : 818,5 ha., Lain-lain : 366,4 ha. Merupakan 3,65 % dari luas Kabupaten Tulungagung, atau 0,82 % dari luas propinsi Jawa Timur. Kecamatan Campurdarat terbagi menjadi 9 Desa. Desa yang terluas wilayahnya adalah Desa Pelem yaitu seluas 7.356 Km² atau 19 % dari luas Kecamatan. Desa yang terkecil adalah Desa Sawo yaitu seluas 3.008 Km² atau 5,90 % luas Kecamatan. Desa yang lainnya rata-rata seluas 4.123 Km² atau 10,35 % dari luas Kecamatan Campurdarat. Wilayah Kecamatan Campurdarat bagian Utara dan Barat merupakan daerah dataran rendah. Wilayah Timur merupakan dataran rendah yang paling subur. Sedangkan bagian Selatan merupakan tanah yang berbukit-bukit dan pada umumnya kurang subur (Pegunungan Kapur, Desa Gamping). Daerah subur yang ada di Kecamatan Campurdarat (Desa Tanggung, Pojok, Pelem, Sawo, Gedangan, Ngentrong ). Hasil utamanya adalah adalah di sektor pertanian padi, polowijo dan tembakau (tembakau dan polowijo sifatnya musiman). Daerah persawahan yang kurang produktif ditanami polowijo dan tanaman perdagangan lain terutama tembakau. Sawah tersebut, terdapat di daerah bekas rawa yang pengairannya Non teknis (Wates, Pelem, Pojok, Tanggung).Letak Ibu kota kecamatan Campurdarat sangat strategis sebagai jalur lalu lintas perdagangan dan jasa antara Kecamatan Campurdarat dan Kecamatan lain seperti Kecamatan Bandung, Besuki, Pakel, Tanggunggunung dan Boyolangu. Ibu Kota Kecamatan Campurdarat termasuk jalur lalu lintas utama tujuan Wisata Pantai Popoh di wilayah Kecamatan Besuki dan juga Pantai Prigi, Gowa Lawa terletak di wilayah Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek. Dengan mempertimbangkan letak Geografis dan strategis sangat cocok dikembangkan perdagangan Industri Kerajinan yang berorientasi wisata, contohnya dengan didirikan Show Room yang menjual hasil-hasil Kerajinan (Marmer / Onix) dan pemasarannya sampai ke Luar Negeri serta pemasaran hasil – hasil pertanian dan juga angkutan jasa wisata.

Batas Wilayah kecamatan Campurdarat sebelah Utara : Berbatasan dengan Kecamatan Pakel, Sebelah Timur : Berbatasan dengan Kecamatan Boyolangu, Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Kec. Tanggunggunung dan Kec. Besuki, Sebelah Barat : Berbatasan dengan Berbatasan dengan Kecamatan Pakel.

Jumlah Penduduk : 50.200 Jiwa, terdiri dari : Laki-laki : 24.880 Jiwa, Perempuan : 25.320 Jiwa
b. Mata pencaharian penduduk : Petani : 22.780 Orang, Peternak : 27 Orang Tukang Kayu / Banguan : 437 Orang, Industri Marmer : 6.830 Orang, Pedagang : 2.682 Orang, PNS : 621 Orang, TNI / Polri : 97 Orang, Lain-lain : 3.214 Orang

POTENSI EKONOMI
1. Sektor Pertanian dan Kehutanan
a. Sub Sektor Pertanian Tanaman Pangan
Sektor pertanian merupakan sektor utama pendapatan masyarakat di Kecamatan Campurdarat. Dari hasil utama tanaman adalah padi, palawija dan tanaman tembakau. Adapun daerah yang subur terletak di desa Tanggung, Pojok, Pelem, Sawo, Gedangan dan Ngentrong. Sedangkan untuk tanaman tembakau dan gadung sifatnya adalah hanya musiman, yang ditanam pada sawah di daerah rawa-rawa yang pengairannya bersifat non teknis.

b. Sub Sektor Peternakan
Usaha pengembangan di sektor Peternakan pada umumnya masyarakat di Kecamatan Campurdarat memelihara ternak besar seperti Sapi, Kambing, Sebagian besar hanya sebagai usaha sampingan, namun ternak unggas seperti ayam kampung, ayam ras dan itik merupakan tambahan pendapatan yang potensial.

c. Sub Sektor Perikanan.
Pada sektor perikanan pada umumnya budidaya ikan lele, gurami, dan ikan hais sangat di minati oleh beberapa Desa di kecamatan Campurdarat yaitu Desa Tanggung, Pojok, dan Desa Pelem. Sebagai cara tepat untuk
pemanfataan tanah pekarangan yang masih kosong (kurang bermanfaat).

d. Sub Sektor Perkebunan.
Di Kecamatan Campurdarat pada sektor ini utamanya adalah tanaman jenis tebu dan tembakau itupun hanya sebagai tanaman musiman. Sedangkan sebagai penaman tanaman ini adalah Desa Wates, Desa Campurdarat, Pojok, dan Tanggungh.

e. Sub Sektor Kehutanan
Pada sektor Kehutanan di Kecamatan Campurdarat terdapat di bagian Wilayah Timur dan selatan yaitu Desa Tanggung, Pelem, Pojok, Sawo, Gamping dan Campurdarat dan kesemuanya termasuk hutan pemerintah.

2. Sektor Industri
Produk unggulan di Kecamatan Campurdarat adalah Industri kerajinan Mamer / Onix yang berpusat di desa Gamping. Desa Gamping adalah desa yang bertipe DIK ( Desa Industri Kerajinan ) karena sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai pengerajin marmer / Onix. Di Desa Gamping terdapat seekitarr 215 unit industri kerajinan marmer / Onix yang terdiri dari 4 industri besar dan 211 unit sedang dan menengah, namun bahan baku sebagian masih mendatangkan dari luar daerah (terutama jenis Onix).

Sedangkan pemasarannya salain keluar daerah juga sudah mencapai tingkat exspor antara lain Negara Amerika, Belanda, Singapura dan Malaysia dll. Jadi yang perlu di garis bawahi kerajinan batu marmer / Onix yang ada di desa Gamping kecamatanm Campurdarat merupakan produk unggulan yang ahrus mendapat perhatian dan pembinaan secara khusus dan terus – menerus dari Pemerintah Daerah maupun Pusat, walupun akhir – akhir ini pengerajin marmer / onix sudah menyebar ke semua desa di kecamatan Campurdarat.

3. Sektor Perdagangan.
Dengah melihat letak geografis dan strategis perdagangan yang berkembang pesat di wilayah kecamatan Campurdarat adalah Perdagangan Industri kerajinan marmer / Onix yang berada di desa Gamping, di sepanjang jalan wisata menuju Pantai Indah Popoh ( Kecamatan Besuki ) yaitu dengan berdirinya Show Room yang menjual hasil – hasil kaerajinan marmer / Onix ( yang bersifat esxpor ). Sedangkan hasil produksi lain yang menonjol di Kecamatan Campurdarat adalah produksi pengolahan krupuk gadung yaitu berpusat di desa Pelem yang pemasarannya sampai di luar kabupaten biarpun produksinya masih musiman.

4. Sektor Koperasi
Pada sektor ini di Kecamaatn Campurdarat hanya ada beberapa Badan Koperasi antara lain : KUD, KPNBG, dan Kelompok Tani yang terdapat di beberapa desa.

5. Sektor Pertambangan
Di kecamatan Campurdarat pada sektor pertambangan hanya terdapat di bagian selatan walaupun cara kerjanya masih dalam sifat tradisional.

Jenis pertambangan yang ada di kecamatan campurdarat adalah galian C yang di gunakan unutk pembuatan batu kapur. Yaitu terletak di desa Sawo Ngentrong, Gamping, campurdarat dan Pelem.

6. Sektor Energi
Pada sektor energi di kecamatan Campurdarat belum dilaksanakan.

7. Sektor Tenaga Kerja
Jumlah penduduk di Kecamatan Campurdarat pada akhir Tahun 2001 adalah 50.200 Jiwa. Desa yang kepadatan penduduk tertinggi adalah Desa Campurdarat. Sedangkan kepadatan terendah adalah Desa Gamping.
Angkatan kerja di Kecamatan Campurdarat terbagi dalam sektor-sektor
– 85,07 % bergerak dalam sektor pertanian
– 5,35 % bergerak dalam sektor Industri
– 1,02 % bergerak dalam sektor perdagangan
– 2,69 % bergerak dalam sektor Transportasi dan Pemerintahan
– 6,87 % bergerak dalam sektor lainnya.

8. Sektor Pariwisata
Di Kecamatan Campurdarat dalam sektor Pariwisata juga terdapat tempat Pariwisata walupun masih belum ditangani secara profesional ( masih tradisional ) yaitu di desa Pelem dengan suasana pegunungan alami Coban dan Watu Gedeg. Wisatawan masih bersifat lokal namun belum ramai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: